Artikel Panas Dingin

Tampilkan postingan dengan label c.pemerkosaan. Tampilkan semua postingan

cerita dewasa - Ngentot bertiga istri dan mantan pacarku di dalam hotel

ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu aku ketemu mantan ku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel ‘S’, kami berdua sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refreshing dari kota J.



Selama ini aku mendengar mantan ku Maya hidup sendiri, dia sudah putus sama yang katanya calon suami waktu dulu dikenalkan denganku, dan dia katanya sekarang adalah biseks (moga-moga bukan begitu yang aku dengar).

Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian setengah telanjang, namun gairah kami berdua tidak ada habis-habisnya (maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan). Kata teman-temanku aku punya libido seks yang tinggi, makanya istriku kadang-kadang tidak kuat meladeni diriku di ranjang.

Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan. Betapa terkejutnya aku waktu kubuka pintu, sesosok badan yag anggun berdiri di depanku dengan celana jeans ketat dan kaos putih ketat terawang.

Aku hampir terpesona “Maya..” kataku setengah gugup. “Ayo masuk,” pintaku, tanpa sadar aku sudah setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu). Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya ditutup oleh selimut hotel.

“Ini Maya, Mah kenalin,” mereka pun saling berjabat tangan.
“Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?” kata Maya kemudian.
Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata,
“Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!”

Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B) kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah, “Aaahh.. aahh..” dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga termasuk Maya.

Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. “Mas.. itilnya.. aahh enak.. Mas.. terus..” Aku sempat melirik Maya, dia pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.

“Mas, ayo mulai.. aku.. udah nggak.. kuat.. nih..” lalu penisku yang sudah mulai tegak berdiri mulai masuk ke lubang vagina istriku, “Bleess.. sleepp..” begitu berulang-ulang, tiba-tiba tanpa aku sadari Maya sudah melepas semua penutup tubuhnya, dia beranjak dari tempat duduk dan mendekati istriku, dilumatnya bibir mungil istriku. Edan! pikirku, namun ini memang pengalaman baru bagi kami berdua dan lebih ada variasinya.

Istriku pun ternyata membalas ciuman Maya dengan bergairah, tangan Maya pun asyik memainkan puting susu istriku. Hampir satu jam aku naik-turun di tubuh istriku, dan tubuh istriku mulai mengejang “Mas.. aku.. ke.. lu.. aagghh..” Tubuh istriku tergeletak lemas di ranjang, Maya tahu kalau aku belum sampai puncak, ditariknya diriku agar duduk di tepi ranjang, dengan penis yang masih tegak dan basah oleh sperma istriku. Maya mulai menjilati penisku dengan bergairah, “Enak Mas cairan istrimu ini,” katanya.

Istriku yang melihat hal itu hanya senyum-senyum penuh arti, Maya masih dengan bergairah mengulum-ulum penisku yang panjang dan besar itu, “May, aku pengen..” Dia tahu apa yang kuminta, tanpa bertanya pada istriku Maya naik di antara kedua kaki, rupanya lubang kemaluannya sudah basah melihat adeganku dan istriku tadi.

Lalu “Bleess..” penisku sudah masuk ke vagina Maya. Istriku melihat itu hanya terdiam, namun kemudian dia bangkit dan mendorongku sehingga aku di posisi terlentang di ranjang. Ia mulai naik ke tubuhku dengan posisi lubang vaginanya tepat di atas kepalaku. “Jilati Mas..” pintanya manja.

Aku mulai menjilati lubang kemaluan istriku dan klitorisnya yang indah itu, istriku dengan posisi itu ternyata lebih bisa menikmati dengan Maya, mereka saling berciuman dan posisi Maya pun naik-turun di atas penisku. Istriku dengan bergairah melumat kedua puting payudara indah milik Maya, setelah setengah jam tubuh Maya mengejang,

“Mas.. aku.. mau.. ke.. aahh..” cairan panas menerpa penisku, begitu pula aku sudah ingin mencapai puncak dan tak tahan lagi spermaku tumpah di dalam lubang vagina Maya. Maya kemudian beringsut dari tempat tidur, dia berjalan ke arah tas yang ia bawa tadi, lalu mengeluarkan sebuah benda coklat panjang dengan tali melingkar, itukah yang dinakan “dildo”, aku dan istriku baru tahu waktu itu.

Maya mulai mengenakan dildonya, persis seperti laki-laki, dia berjalan ke arah istriku yang sejak tadi rebahan di sampingku. Maya mulai beraksi, dia menciumi istriku dengan bergairah, melumat puting susu istriku yang tegak, turun ke vaginanya, dijilatinya dengan puas, klitorisnya dimainkan dengan ujung lidahnya, istriku tak tahan dia mendesah-desah kenikmatan.

“May.. terus..” Maya kemudian melepas vagina istriku yang tadi dijilat dan digigitnya, dia naik di atas tubuh istriku, lalu tangannya membimbing dildo yang dia pakai tepat di atas lubang vagina istriku, dengan sekali tekan masuklah dildo itu, “Aauugghh..” teriak istriku. “Enak Mas.. lebih enak dari punyamu..” katanya, aku hanya tersenyum. Maya seakan bergairah sekali dalam permainan itu, seakan-akan dia seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi wanita, istriku pun menikmatinya.

Aku sudah tidak tahan melihat adegan itu, tanpa minta ijin dulu dengan posisi membelakangi Maya aku melihat warna merah indah vagina milik Maya terpampang di depanku. Dengan sekali genjot penisku sudah masuk ke lubang itu, “Bleess..” Mata Maya sampai terpejam-pejam menikmati itu.

Setelah beberapa lama tubuh istriku tampak mengejang dan, “Ahh.. May.. sayang..” Dia lemas untuk kedua kalinya. Maya tiba-tiba menahanku, sehingga aku terdiam, dia bangkit berdiri dari posisi di atas istriku, dia mendorongku ke tempat tidur, dia melepas dildonya dan naik ke tubuhku, dia mulai lagi dengan posisi seperti awal tadi, wow nikmat sekali.

Istriku bangkit dari ranjang, dia iseng mengenakan dildo yang dikenakan Maya tadi, lalu berjalan membelakangi Maya, istriku melihat dengan indah pantat Maya yang putih mulus dan halus itu. Dibelainya dengan lembut, dia mendorong tubuh Maya sehingga terjerambab, dengan posisi itu kami dapat saling berciuman dengan bergairah.

Istriku lalu mengambil posisi, dengan perlahan-lahan dia memasukkan dildonya di dubur Maya (dia ingin anal seks rupanya dengan Maya), dengan gerakan lembut dildo itu masuk ke dubur Maya, Maya pun berteriak, “Aagghh sa.. kit..” istriku pun berhenti sebentar, lalu dengan gerakan maju-mundur secara pelan dildo itu akhirnya lancar masuk ke dubur Maya. Mata Maya pun sampai terpejam-pejam, “Mas.. aku.. udah.. nggakk.. ku.. at.. la..” kembali cairan panas menyerang penisku.

Istriku sudah berhenti memainkan dildonya takut Maya menderita sakit. Tubuh Maya terbaring di ranjang sebelahku, istriku yang nafsunya masih menggebu langsung menyerangku, dia dengan posisi seperti Maya tadi mulai naik-turun dan tanganku pun tak ketinggalan memilin kedua puting susunya.

Setelah hampir satu jam kami bergumul, akhirnya klimaks kami berdua sama-sama mengeluarkan cairan di dalam satu lubang. Istriku kemudian beringsut, dia ingin mengulum penisku yang masih tegak berdiri dan basah oleh cairan kami berdua, Maya pun tak ketinggalan ikut mengulum-ngulum penisku. Betapa nikmatnya malam ini, pikirku.

Akhirnya kami bertiga tertidur karena kecapaian dengan senyum penuh arti semoga permainan ini dapat kami teruskan dengan didasari rasa sayang bukan karena nafsu semata di antara kami bertiga.

cerita dewasa - risma mendesah saat di perkosa

Gadis yang masih duduk di kelas 3 SMU ini bernama Risma masih berumur 17 tahun memounyai tubuh yang seksi dan sekal, kulitnya putih mulus rambutnya panjang terurai sebahu, wajah yang cantik, dia anak orang punya dan punya naman di kotanya, dia bisanya dirumah sendiri karena kedua orangntuanya tugas di ibukota, terkadang dia juga ditemani oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri ternama di kota itu.


Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Risma sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.
Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk para laki-laki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya adalah Teguh, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Risma.
Teguh, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksi melintas di hadapannya.
Sosok pribadi Risma memang cukup supel dalam bergaul dan sedikit genit termasuk kepada Teguh yang sering mengantarkan Risma dari jalan besar menuju ke kediaman Risma yang masuk ke dalam gang.
Suatu sore, Risma pulang dari sekolah. Seperti biasa Teguh mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK.
Dan Teguh memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Risma. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Risma nanti akan dikerjai. Teguh sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.
“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Risma.
“Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Teguh sambil terus mengayuh becaknya.
Dengan sedikit kesal Risma pun terpaksa mengikuti kemauan Teguh yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Teguh, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Teguh membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.
“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya Risma.
“Hujan..”, jawab Teguh sambil menghentikan becaknya tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.
Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga. Keadaan seperti ini membuat Risma menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat was-was dan gelisah.
“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Teguh sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri Risma yang masih duduk di dalam becak.
Bagai tersambar petir Rismapun kaget mendengar ucapan Teguh tadi.
“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Risma sambil terbengong-bengong.
“Non cantik, kamu mau ini?” Teguh tiba-tiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah mengeras dan membesar.
Risma terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini.
“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Risma dengan wajah yang memucat.
Sejenak Teguh menatap tubuh Risma yang menggairahkan, dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Risma yang putih bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis itu.
Dan di bagian atasnya, kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih seragamnya yang berukuran ketat.
“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”,
Risma mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Teguh yang semakin mendekati tubuhnya.
Tubuh Risma mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya secara refleks berusaha menampik tangan Teguh yang mulai menjamah paha Risma, tapi percuma saja karena kedua tangan Teguh dengan kuatnya memegang kedua paha Risma.
“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”,
Risma meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Teguh malahan semakin menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Risma itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Risma.
Risma pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Teguh mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Risma.
Tubuh Risma menggeliat ketika tangan-tangan Teguh mulai menggerayangi bagian pangkal paha Risma, dan wajah Risma menyeringai ketika jari-jemari Teguh mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.
“Iihh..”,
pekikan Risma kembali menggema di ruangan itu di saat jari Teguh ada yang masuk ke dalam liang vaginanya.
Tubuh Risma menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Teguh semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah Risma yang megap-megap dengan tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah Teguh yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.
“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian selangkangan Risma.
Saat ini lubang kemaluan Risma telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jari-jari Teguh.
Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Teguh mencabut jarinya dari lubang kemaluan Risma. Risma nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya.
Teguh kemudian menarik tubuh Risma turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang sintal sementara Risma hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu. Teguh juga menikmati wanginya tubuh Risma sambil terus meremas remas pantat gadis itu.
Selanjutnya Teguh mulai menikmati bibir Risma yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.
“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Risma mendesah-desah di saat Teguh melumat bibirnya.
Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Risma oleh gigi dan bibir Teguh yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Teguh pun bergeser ke bagian leher gadis itu.
“Oohh.. Eenngghh..”, Risma mengerang-ngerang di saat lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Teguh.
Cengkeraman Teguh di tubuh Risma cukup kuat sehingga membuat Risma sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang membuat Risma pasrah di hadapan Teguh yang tengah memperkosanya.
Setelah puas, kini kedua tangan kekar Teguh meraih kepala Risma dan menekan tubuh Risma ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Teguh yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Teguh kepala Risma dihadapkan pada penisnya.
“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”, bentak Teguh sambil menjambak rambut Risma.
Takut pada bentakan Teguh, Risma tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Teguh mendorong masuk penisnya ke dalam mulut Risma.
“Hmmphh..”, Risma mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Risma menggelembung karena batang kemaluan Teguh yang menyumpalnya.
“Akhh..” sebaliknya Teguh mengerang nikmat.
Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga mulut Risma di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di mulut Risma.
Risma menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Teguh. Sementara kedua tangan Teguh yang masih mencengkeram erat kepala Risma mulai menggerakkan kepala Risma maju mundur, mengocok penisnya dengan mulut Risma. Suara berdecak-decak dari liur Risma terdengar jelas diselingi batuk-batuk.
Beberapa menit lamanya Teguh melakukan hal itu kepada Risma, dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan Teguh mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Risma semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut Risma. Wajah Teguh menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..
“Aakkhh..”, Teguh melengking, croot.. croott.. crroott..
Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Teguh yang mengisi mulut Risma yang terkejut menerima muntahan cairan itu. Risma berusaha melepaskan batang penis Teguh dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan Teguh mencengkeram kuat kepala Risma. Sebagian besar sperma Teguh berhasil masuk memenuhi rongga mulut Risma dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela mulut Risma.
“Ahh”, sambil mendesah lega, Teguh mencabut batang kemaluannya dari mulut Risma.
Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Risma. Demikian pula halnya dengan mulut Risma yang nampak basah oleh cairan yang sama. Risma meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga lemas dan shock setelah diperlakukan Teguh seperti itu.
“Sudah Pak.. Sudahh..” Risma menangis sesenggukan, terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Teguh yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Risma.
Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Teguh membuat tenaganya menjadi kuat berlipat-lipat kali, apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.
Teguh kemudian memegang tubuh Risma yang masih menangis terisak-isak. Risma sadar akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Risma bergetar ketika Teguh menidurkan tubuh Risma di lantai gudang yang kotor itu, Risma yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Teguh.
Setelah Risma terbaring, Teguh menyingkapkan rok abu-abu seragam SMU Risma hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan gerakan perlahan, Teguh memerosotkan celana dalam putih yang masih menutupi selangkangan Risma. Kedua mata Teguh pun melotot tajam ke arah kemaluan Risma. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah sekali.
Teguh langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Risma. Risma menjerit ketika Teguh mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina Risma.
“Aakkhh..”, Risma menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di selangkangannya.
Kedua tangan Risma ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di vagina Risma dengan kasar dan bersemangat.
“Aaiihh..”, Risma melengking keras di saat dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh batang penis Teguh. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan Risma. “Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Teguh mendesis nikmat.
Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Teguh langsung menggenjot tubuh Risma dengan kasar.
“Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Risma mengerang-ngerang kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan Teguh yang keras dan kasar. Sementara Teguh yang tidak peduli terus menggenjot Risma dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan vagina Risma yang mengalir deras bercampur darah keperawanannya.
Sekitar lima menit lamanya Teguh menggagahi Risma yang semakin kepayahan itu, sepertinya Teguh sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Risma, sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Teguh kembali mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya yang hitam kekar itu dan Teguh pun berejakulasi.
“Aahh..” Teguh memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Risma yang tengah menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi mengimbangi gerakan-gerakan Teguh.
Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Teguh. Teguh puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik yang selama ini menghiasi pandangannya dan menggoda dirinya.
Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, akhirnya Teguh dengan becaknya kembali mengantarkan Risma yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, Risma tak mampu lagi berjalan normal hingga Teguh terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Suasana di lingkungan rumah yang sepi membuat Teguh dengan leluasa menuntun tubuh lemah Risma hingga sampai ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah berbisik ke telinga Risma bahwa dia berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuhnya yang molek itu, Teguh pun kemudian meninggalkan Risma dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan Risma yang masih terduduk lemas di kursi teras rumahnya.

cerita dewasa - ketahuan merokok di wc sekolah

Aku masih bersekolah SMA panggil saja namaku Lia, aku sekarang baru kelas 1 SMA banyak teman cewekku yang bilang aku itu cantik, dan tak sedikit pula cowok cowok banyak yang mengejarku untuk menjadikan pacar, selain cantik aku ditunjang oleh kulit putih dan ukuran payu dara ukuran 34 B , lumayan juga ya diumurku yang baru 17 tahun karena setiap mandi aku sering memeras meras sendiri payudaraku.




Cerita ini bermula ketika aku ketahuan sedang merokok di WC sekolah. Ya…aku memang pecandu berat rokok. Sehari bisa habis sebungkus. Kalau sudah pingin ngerokok aku sering curi-curi di WC sekolah. Seperti siang itu, setelah pulang sekolah aku langsung ke toilet wanita dan mengeluarkan rokok dari tasku. Sambil menunggu sopirku yang memang sering datang telat, aku mulai menyalakan sebatang rokok.
Suasana sekolah sudah sepi karena siswa dan guru-guru sudah pada pulang, makanya aku berani. Lagi asik-asiknya merokok aku dikagetkan oleh dua orang yang membuka pintu kamar mandi. Ternyata mereka adalah penjaga sekolahku, Pak Togar dan Aryo. Aku pun ketangkap basah dan tak bisa mengelak. Mereka menuduhku melakukan pelanggaran berat di areal sekolah dan harus dilaporkan.
Tentu saja aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Bisa dibayangkan jika sampai kejadian ini diketahui kepala sekolah maka aku pasti dipecat dari sekolah ini. Aku tidak mau sampai dipecat sehingga terjadi perdebatan dan tawar-menawar di antara kami.
Aku menawarkan sejumlah uang kepada kedua penjaga seklah itu. Kemudian Aryo sesuatu pada Pak Togar, entah apa yang dibisikkan lalu keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Pak Togar lalu berkata,
“Gini saja, bagaimana kalau kita pakai sebentar body Non buat biaya tutup mulut?”
“Huh, dasar…cowok dimana-mana sama aja, selangkangan melulu isi kepalanya!” omelku dalam hati
Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan punggungku ke tembok. Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku mengiyakan juga, daripada aku dipecat dari sekolah ini mending kurelakan tubuhku untuk kedua penjaga sekolah ini.
Lagian aku sudah tidak perawan lagi dan termasuk gadis yang doyan ngesex. Tapi bercinta dengan kedua orang ini membuatku agak sedikit takut. Bagaimana tidak, Pak Togar berumur 40 tahun dengan tubuh tambun berambut cepak sudah agak beruban dan wajah mirip tukang pukul, sedangkan Aryo baru berumur 24 tahun, tubuhnya kurus dekil, dengan jenggot kambing yang jarang di dagunya.
Selain itu dari segi fisik, keduanya jauh dari ganteng. Tapi tak ada pilihan lain bagiku selain melayani nafsu mereka. Akhirnya aku menganggukan kepala yang disambut dengan tawa dari mereka.
“Hehehe…cantik, sexy… wah beruntung banget kita Pak Togar!” kata Aryo
“Iya Kir, anak SMA pula.ha..ha…”sambut Pak Togar tertawa penuh kemenangan
Kedua penjaga sekolah itu lalu mendekatiku. Pak Togar langsung melumat bibirku sebelum aku sempat protes dan berkelit, sedangkan si Aryo meraba-raba dadaku yang kiri dari luar. Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, Pak Togar makin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya ikut meremas-remas payudaraku yang kanan.
Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta. Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk membawa diri mengikuti arus permainan.
Dengan kuluman lidah Pak Togar yang agresif, ditambah remasan-remasan telapak tangan mereka pada payudaraku, birahiku pun dengan cepat naik. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Pak Togar mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan diri menggerakkan tangan memeluk kepala Pak Togar. Sementara di bawah sana kurasakan sebuah tangan kasar meraba pahaku. Aku membuka mata dan melihatnya, di sana Aryo mulai menyingkap rok SMA ku dan merabai pahaku yang putih mulus.
“Mulus banget pahanya Non…bikin gemes aja..nih…he..he..” sahut Aryo sambil tangannya makin merayap naik hingga selangkanganku.
Pak Togar lalu melepaskan ciumannya dan berkata :
”Gua juga jadi penasaran ini dengan teteknya. Semulus pahanya ga? Hahaha…”
Pak Togar lalu beralih dadaku. Seragam SMAku yang agak ketat disingkapnya sehingga terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus BH hitam, itupun juga langsung diturunkan hingga dadaku terekspos di hadapan mereka.
“Wow teteknya montok sekali, putih lagi” komentarnya sambil meremas payudara kananku yang pas di tangannya.
Seperti yang aku katakan, untuk ukuran anak SMA seusiaku, ukuran dadaku cukup besar dengan puting berwarna merah kecoklatan. Aryo juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia melumat yang kiri.
Mereka kini semakin liar menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipelintir Pak Togar sambil mencupangi leher jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Aryo yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia menyedot kuat-kuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku sering merintih kalau gigitannya keras.
Namun perpaduan antara kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas. Melihat aku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga dapat kurasakan angin membelai kulit pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan jelas.
Aryo menyusupkan tangannya ke balik celana dalamku dan mulai mengobok-obok di dalam sana. Tangan Pak Togar yang lainnya merayap turun mengelusi belakang pahaku hingga mencengkram pantatku.
Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan desahan-desahan menggoda. Vaginaku terasa semakin becek karena gesekan-gesekan dari jari Aryo, bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua jarinya menemukan lalu mencubit pelan daging kecil yang tak lain adalah klitorisku.
“Ohhhhh…..Bang…….auw!!” desahku.
Tubhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku. Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Aryo meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah kapan dia keluarkan. Ukurannya lumayan jadi juga, walaupun perawakannya kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar sehingga membuatku terhenyak.
“Waw…keras juga, gede lagi” kataku dalam hati saat menggenggam penisnya yang memang panjang itu.
Aku mulai mengocoknya perlahan sesuai yang diperintahkannya, terasa benar benda itu makin membengkak saja dalam genggamanku. Tak lama kemudian, Aryo menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jari-jarinya basah oleh cairan kewanitaanku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku.
“Asyik nih, siang ini kita bisa ngentot cewek cantik” celoteh Aryo sambil meremasi bongkahan pantatku yang membulat indah itu.
“Iya…dari dulu saya sudah naksir berat sama si Non Erlina ini, soalnya udah kece, suka pake baju seksi pula. Ga nyangka akhirnya ada kesempatan kaya gini…hehe” timpal pak Togar.
Dia langsung membuka baju dan celananya hingga telanjang. Masih sambil dengan berpegangan di tembok, kugerakkan mataku memperhatikan burungnya yang baru dikeluarkan dari sangkarnya. Wow…aku membelalakkan mata tak berkedip, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Aryo tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai cendawan.
Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya. Sumpah deh…penisnya ini mengalahkan semua teman-teman kencanku. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku.
Bahkan mengalahkan penis Tarjo pembantuku sendiri. (sebagai informasi aku pernah ML dengan pembantuku yang bernama Tarjo. Di lain kesempatan, akan kuceritakan pengalamanku itu).
Aku berhenti menatap takjub saat Aryo mulai menurunkan celana dalamku. Disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung di kaki kanan.
Posisiku yang sedikit menungging mengakibatkan vaginaku terpampang di hadapan mereka. Mata mereka seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rok abu-abuku yang terangkat hingga pinggang. Aryo mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi berdiri.
Dengan lembut dia membelai permukaan vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu meremas-remas dadaku.
“Sshh.. Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku.
“Tenang Non…saya gak bakal kasar kok, dijamin enak ngentot sama si ganteng Aryo!” kata Aryo memuji diri tanpa tahu kondiri dirinya, ia juga terus merayu sambil mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya.
Aksi Aryo berhenti ketika Pak Togar meletakkan sebuah kursi panjang di tengah toilet. Kursi panjang itu biasa digunakan untuk duduk jika sedang ngantri mau ke toliet. Pak Togar lalu memberi isyarat agar Aryo menelentangkan tubuhku di atas kursi itu. Sekarang aku terbaring telentang di atas kursi itu dengan Aryo berada di antara kedua pahaku. Dia membentangkan pahaku lebar-lebar membuatku malu dan menutupkan tanganku di vaginaku. Dengan gemas dia membentangkan tanganku lagi. Pak Togar lalu mendekat dan berkata :
”Non Erlina, dari dulu saya pengen suatu saat nanti agar kontol saya bisa ngerasian bibir Non. Eh, akhirnya kesampaian juga. He.he..” katanya sambil tertawa, “sekarang ayo buka mulutnya Non!” perintah Pak Togar setengah menghardik.
Hal itu membuatku takut. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.
“Ayo non, emutin kontol Pak Togar tuh, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non!” kata Aryo menimpali.
aku tak punya pilhan lain. Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.
“Uaahh.. uueennakk banget, Non Lina udah pengalaman yah?” ceracau Pak Togar menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku.
Di bawah sana, kurasakan Aryo mulai menjilati pahaku yang putih mulus, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat bergetar saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pangkal pahaku lalu menyentuh bibir vaginaku.
Bkan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku. Aku makin bersemangat mengoral penis Pak Togar saking nikmatnya yg kurasakan.
“Wah, makin gatel nih Non Lina. Awas…kontol saya jangan sampai digigit ya. ohhhh…ohh….” kata Pak Togar.
Sambil mengoral penis Pak Togar aku menjambak rambut si Aryo yang sedang menyeruput vaginaku. Aku benar-benar sudah terbuai dalam kenikmatan birahi. Sebentar lagi aku akan mencapai puncak kenikmatan.
Tidak sampai lima menit, tubuhku mengejang, rasa nikmat itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhku. Sensasi itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Aryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku
Badanku lemas, dan kulepaskan mulutku dari penis Pak Togar. Pak Togar nampaknya mengerti dengan kondisiku sehingga dia tidak memaksaku mengoral penisnya lagi.
“Emang enak ya cairan pejunya cewek SMA” sahut Aryo kepada Pak Togar.
“Tunggu sampai lu rasain sepongannya deh Kir…pokoknya maknyus deh! Non Lina udah pengalaman yah?” kata Pak Togar.
“Benar tuh Pak…anak-anak SMA sekarang kan doyan ngentot. Hehehehe…”
Aku hanya mengatur nafasku sambil memejamkan mata mendengar olok-olok mereka. Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, aku mulai merasakan ada jari yang merenggangkan vaginaku, kemudian disusul dengan sebuah benda keras yang menyeruak masuk.
Benda itu adalah penis Aryo, ia sepertinya buru-buru sekali ingin menikmati vaginaku. Aku membelalakkan mata menahan nyeri ketika penisnya menerobos vaginaku. Penis besar itu kesulitan menjebol vaginaku yang masih sempit itu.
Kepala penisnya yang besar itu menggesek klitoris di liang senggamaku hingga aku merintih antara sakit dan nikmat. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah.
Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku. Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku. aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik.
“ahh……….bang…….stop…….ahhhhhhh…….sakittttttt…pelan dikithh!!” aku melolong panjang menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berar. Perasaan perih bercampur nikmat tersebut membuat badanku mengejang beberapa detik.
“Oohh.. Non Lina sayang…peret banget.. memekmu.. enaknya!” ceracaunya di tengah aktivitasnya.
Aryo menyetubuhiku dalam posisi doggie di atas lantai toilet, alat kelamin kami yang bertumbukan menimbulkan bunyi plok-plok-plok. Aku sungguh larut dalam kenikmatan ini dan tak bisa menahan desahanku.
Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Aryo yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat.
Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami. Pak Togar tidak menyia-nyiakan mulutku yang mengap-mengap dan terbuka lebar. Ia berlutut di hadapanku dan dijejalinya penisnya ke mulutku sehingga teriakanku tersumbat.
Aryo makin brutal menyodok-nyodok vaginaku. Sambil menyodok, kepalanya merayap ke payudaraku dan tangannya sesekali menampar bongkahan pantatku karena gemas. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan bernafsu, kocokan dan kulumanku pada penis Pak Togar pun makin bersemangat.
Rupanya teknik oral seksku telah membuat Pak Togar ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat seolah tidak rela melepaskannya.
Bahkan sesekali dia menjambak rambutku ketika aku menggigit pelan batangnya. Penisnya yang besar itu menyesaki mulutku yang mungil itu pun ada sisanya karena tidak tertampung semua. Hal itu membuat aku susah bernafas.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Aku mencoba mengikuti ritme genjotan mereka hingga pelan-pelan akupun mulai terbiasa, serasa terbang melayang-layang aku dibuatnya hingga akhirnya tubuhku menggelinjang. Aku mau menjerit tapi mulutku tersumbat oleh penis Pak Togar. Bersamaan dengan itu pula genjotan Aryo terasa makin bertenaga.
“Non…neng saya keluar nih !” erangnya panjang sambil meringis.
Hal yang sama pula dirasakan olehku, aku tidak sanggup lagi menahan gelombang orgasme yang menerpaku demikian dahsyat. Kami mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan kami.
Aku melepaskan penis Pak Togar dari mulutku dan mengambil udara segar. Tubuh telanjangku terbaring lemas di kursi panjang itu. Lelah sekali persetubuhan liar barusan. Kurasakan punggungku sakit karena bergesekan dengan kursi panjang itu.
“Hehe…liat nih Pak Togar, akhirnya saya bisa juga numpahin peju ke memek bidadari sekolah kita” kata Aryo membentangkan bibir vaginaku dengan jarinya, seolah ingin memamerkan cairan spermanya dengan bangga.
“Ngehek juga kau Kir, kenapa pula jadi kau yang duluan ngetotin dia. Kan harusnya saya sebagai yang lebih tua darimu”. kata Pak Togar sewot.
“Aduh maaf Pak. Habis saya gak tahan tadi. Soalnya Non Lina ini udah dari dulu pengen saya entotin. He..he… Kalo saya ngocok pasti selalu ngebayangin dia. Jadi mengertilah Bang. He,,he,,” kata Aryo sambil cengengesan.
Pak Togar lalu mendekatiku.
“Non Lina, bisa ga Bapak tusuk sekarang? udah ga tahan daritadi belum rasain memeknya Non, boleh kan?” kata Pak Togar sambil mengangkat tubuhku.
Aku tahu itu hanya basa-basi, sebab jika aku menolak sekalipun dia pasti akan tetap melakukannya. Maka, walau masih lemas banget, tapi kuanggukan kepala mengiyakannya.
“Tapi pelan-pelan ya…masih cape nih” kataku sambil menatap ngeri ke penis supernya yang sudah menegang maksimal.
Dia nampaknya senang, karena sebentar lagi akan merasakan kenikmatan gadis muda. Diangkatnya tubuhku lalu digiring ke arah wastafel lalu aku disuruh berbalik dan tanganku bertumpu pada wastafel. Sekarang aku dapat melihat diriku melalui cermin di hadapanku dan dari belakang kulihat dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya.
“Bener-bener body yang top!” pujinya sambil meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya.
Saat tangannya mengelus kemaluanku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah terlarang itu. Lewat cermin kulihat dia mulai mempersiapkan penisnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir vagina dan anusku. Kemudian dia menyelipkan penisnya di antara selangkanganku lewat belakang.
Tanpa buang waktu lagi, Pak Togar mendorong penisnya pada vaginaku. Walaupun sudah becek oleh lendirku, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang senggamaku.
Aku merintih kesakitan merasakan penis itu melesak hingga amblas seluruhnya. Dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi.
“Benar juga katamu Kir…sempit banget…enak…ohh” sahut Pak Togar.
Dia pasti tak habis pikir bisa menikmati gadis SMA sepertiku. Kedua bandot ini memnag sangat beruntuk bisa menikmati tubuhku dengan gratis. Tapi setelah kupikir-pikir toh aku juga menikmatinya. Permainan mereka telah berhasil menggali sisi terliar dalam diriku. Tak dapat kusangkal bahwa aku sangat menikmati persetubuhan ini.
“OH…pak terus….entot aku!!” desahku tanpa malu-malu lagi.
Cermin di depanku memantulkan bayangan wajahku yang sedang horny, mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangan kasar itu meremas-remas kedua payudaraku sambil sesekali dipermainkannya putingku yang sudah mengeras.
“Suka ga Non Lina bapak ginikan?” tanyanya sambil terus menggenjot dan mempermainkan payudaraku. Nampaknya dia senang melihatku tersiksa seperti ini.
”Aahh.. iya…suka…” desahku tak tertahankan.
Pak Togar menimpali jawabanku dengan berkata pada Aryo : “Lu denger Kir? Katanya dia suka. Hahaha….”
“Hajar aja terus memeknya Pak. Udah gatal dia itu….hahahahahah..” kata Aryo.
Aryo menontonku sedang bersetubuh dengan Pak Togar sambil duduk merokok di bangku panjang.
Pak Togar makin bersemangat saja menyetubuhiku. Tusukan-tusukan penisnya seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari vaginaku dengan deras sampai membasahi pahaku.
Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah mencapai orgasme. Tadinya kukira dia juga akan segera memuntahkan spermanya, ternyata aku salah, penisnya masih begitu keras dan dia masih kuat menggenjotku tanpa mempedulikan kondisiku yang mulai kepayahan.
Rambut panjangku dijambaknya sehingga kepalaku terangkat, kembali kulihat adeganku melalui cermin dimana tubuhku yang telah mandi keringat tergoncang-goncang, nampak pula payudara terayun kesana-kemari.
Sudah seperempat jam berlalu, selama itulah aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan orgasme, justru nafsuku mulai bangkit lagi. Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan.
Mendadak dia menarik lepas penisnya, aku sudah siap menerima semprotan spermanya, namun…ooohh..tidak! penis itu masih mengacung dengan gagahnya. Dia lalu duduk di kursi panjang tadi,
“Sini Non, kita main pangku-pangkuan!” suruhnya seraya menepuk paha.
Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, tanpa malu-malu lagi aku melingkarkan tangaku di pundaknya. Akupun dengan senang hati menuntun penisnya memasuki milikku, dalam posisi seperti ini aku dapat lebih aktif bergoyang.
Setelah menurunkan tubuhku hingga penisnya amblas ke dalam vaginaku, aku pun mulai bergoyang di pangkuannya. Pak Togar pun membalas gerakkanku dengan menyentak-nyentak pinggulnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Kedua tangannya menggerayangi tubuhku terutama payudara dan punggung.
“Ohhh.oohhhhh……ohhhh.” hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan naik-turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Togar mengerang karena penisnya terasa diplintir. Wajahnya dibenamkan pada belahan dadaku, putting kiriku disedot dan dikulumnya dengan rakus.
Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan.
“Uuugghh…oohh…memek SMA enak banget, nngghhh…memek anak..sma..!!”.
Aryo menonton adegan kami sambil mengelus-elus penisnya, dia ingin memancing adik kecilnya untuk `bangun`.
“Ayo…goyang Non…oohh!” Pak Togar sepertinya ketagihan dengan goyanganku. Tangannya tetap meremas-remas dadaku, bahkan sesekali mulutnya menggigit payudaraku. Kontan aku menjerit-jerit makin kuat. Jeritanku membuat Pak Togar makin bernafsu begitu juga Aryo, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia mendekat dan berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku. Dia mengelus-eluskan benda itu pada pipiku yang halus.
“Emut non…ayo buka mulutnya!” sambil mengarahkan batangnya ke mulutku yang mendesah-desah.
Dengan setengah memaksa dia menjejalinya ke mulutku. Aku yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu ke mulutku. Kusambut batangnya dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, ntah kenapa aku tidak merasa jijik.
Malah kupakai ujung lidahku untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Hal itu membuat Aryo blingsatan sambil meremas-remas rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Togar.
”ah uh ah….hhhhh………”suara-suara itu membahana di kamar mandi itu. Untung suasana sekolah sudah sepi kalau tidak bisa berabe.
Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap penis Aryo makin keras hingga membuat batangnya menegang maksimal. Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Dia sangat pandai meremas-remas titik sensitifku, sehingga aku dibuatnya melayang-layang.
Gelombang orgasme sudah di ambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Pak Togar menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan juga.
“Aaaahhhhh….hhhhhhhh!!!!” desahan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langit-langit kamar mandi sehingga penis Aryo yang sudah menegang maksimal lepas dari bibirku.
Aku dan Pak Togar orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalam rahimku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku.
Ak ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Togar. Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup keringat yang mengucur. Aku merasakan kehangatan dalam dekapan pria itu. Tanpa memperdulikan tubuhku yang lemas Aryo langsung mengangkat tubuhku dari Pak Togar. Dia lalu membuatku menungging diatas lantai dengan tangan bertumpu pada kursi panjang itu.
“Mau ngapain lagi sih Bang?” tanyaku. “udah dulu dong, Lina dah cape nih” keluhku yang tidak dipedulikannya.
Dia menepuk-nepuk pantatku yang montok. Dia kemudian meludahi bagian duburku beberapa kali. lalu digosok-gosokkan dengan jarinya ke daerah itu. Aku memejamkan mata dan berharap semoga dia tidak menyerang anusku, karena aku sudah membayangkan ngerinya kalau batangnya itu membobol pantatku yang masih perawan.
Aku belum pernah anal seks sebelumnya dan tidak punya keinginan untuk melakukannya karena membayangkannya juga sudah sakit. Sunguh aku lemas jika membayangkan rasa sakit jika penisnya menusuk-nusuk anusku seperti menusuk-nusuk vaginaku. Belum habis aku berfikir aku dikejutkan oleh sebuah benda lonjong di bibir lubang anusku. Aku pun kontan menarik pantatku. Tapi Aryo malah menarikku. Aku terkejut dan mencoba berontak
“Jangan bang…jangan di situ…. Sakit!” ibaku.
“Tahan Non, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang.
Aku masih meronta-ronta tapi Pak Togar memegangi tubuhku. Nampaknya dia memberi kesempatan bagi Aryo menikmati anusku. Dia perlahan-lahan mendorong penisnya masuk ke anusku. Anusku pun kontan mengerut. Dia masih terus berusaha melicinkan jalan penisnya.
Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya ia berhasil memperawani anusku. Aku memeluk tubuh Pak Togar karena saking perihnya baru pertama kali ditusuk bagian sana. Dia diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.
“Auhhh….sakit…” Aku menjerit keras saat dia mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuhku pun ikut terhentak-hentak. Aku tidak bisa melukiskan rasa sakit yang aku rasakan.
Tanpa menghiraukannku dia tetap mengengot duburku. Untuk merangsangku, Pak Togar meraih kedua payudaraku yang bergoyang dan diremas-remasnya dengan lembut. Tapi remasannya kalah dibandingkan rasa sakit yang kuterima.
“pak..u..da..ah….Erlina..sa..kit” jeritku panjang.
Keringat dan air mataku bercucuran. Jeritanku itu bukannya membuatnya kasihan malahan membuatnya makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan pantatku yang mulus itu diremas-remas dengan brutal.
Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan. Lambat laun mulai kuraskan nikmat sedikit. Tapi walaupun begitu air mataku tetap bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-tegah rasa perih dan ngilu. Rasa sakit itu kurasakan terutama pada dubur, aku mengaduh setiap kali dia mengirim hentakan dan remasan keras, namun aku juga tidak rela dia menyudahinya. Terkadang aku harus menggigit bibir untuk meredam jeritanku.
“aduh, sempit banget nih pantat.” desahnya sambil terus menggenjotku.
“Udah bangsat. Hentikan. Sak…..it…..” kata-kata kasar keluar dari mulutku, tapi dia bahkan tidak peduli.
Aku terus memaki dan memakinya agar berhenti. Untuk meredam suaraku Pak Togar lalu mamasukkan penisnya ke mulutku dan memaksaku mengemutnya. Dia bahkan mulai kasar dengan menjambak rambutku.
Aku tak punya pilihan lain selain mengoralnya. Hitung-hitung pengalih rasa sakit vaginaku. Kusedot dengan keras penis hitam itu. Kubuat pemiliknya medesah-desah. Walau masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya. Aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku.
Tiba-tiba Aryo melingkarkan kedua lengannya ke ketiakku dan menarik bahuku. Kedua lenganku sekarang terkunci oleh lengan Aryo dan terentang ke samping, membuatku terpaksa melepaskan kulumannya pada penis Pak Togar.
Dalam posisi seperti itu Aryo kemudian menarik tubuhnya sehingga kami berdua terlentang di lantai kamar mandi itu dengan posisi tubuhku ada di atasnya.
Melihat hal itu, Pak Togar ikut maju, dipentangkannya kedua belah pahaku dan ditekuknya ke arah samping sehingga mengangkang seperti kodok, membuat vaginaku terkuak lebar.
“Oohh… janganh.. ahhh…hentikan……….”Aku berteriak takut saat menyadari apa yang akan dilakukan oleh Pak Togar. Pelan-pelan Pak Togar mula mendekatkan penisnya ke vaginaku. Aku berontak menyadari bahwa akan ada 2 penis besar dironggaku. Pasti sangat sakit pikirku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak karena Aryo memegangi tubuhku hingga aku tak bisa bergerak.
“AAHHHHHKKK…am…pun………….nnnnn……..” aku menjerit saat penis Pak Togar menembus liang vaginaku.
Sekarang dua batang penis besar memasuki tubuhku dari depan dan belakang. Aku meronta-ronta hebat saat secara bergantian Aryo dan Pak Togar menggenjot tubuhnya. Tubuh ku mengeliat-liat di dalam himpitan kedua penjaga sekolah buruk rupa itu.
Dan sambil menggenjot vaginaku, Pak Togar juga sibuk menciumi dan melumat bibirku. Aku merasa tersiksa dihimpit kedua penjaga sekolah brutal ini, tapi sebenarnya Aku juga merasakan sebuah sensasi hebat yang bergolak dari dalam tubuhku, bagaikan api besar yang membara dan meledak-ledak, membuatku akhirnya tenggelam dalam permainan seks bertiga itu. Apalagi ternyata Aryo dan Pak Togar sangat lihai dalam urusan seks, membuat sensasi dalam tubuhAku meledak.
“aahhh… ahhhh… mau nyampe…….. oohhh… udaaaahhh… oohhh… udaaahhh…”Aku merintih-rintih merasakan orgasmenya setiap saat bisa meledak. Tapi kelihaian Aryo dan Pak Togar dalam bersenggama membuat mereka bisa menahan orgasmeku. Mereka tidak ingin Aku selesai dengan mudah.
Setiap kali Aku akan meledakkan orgasmenya, setiap kali pula mereka menghentikannya dengan bermacam cara, seperti dengan menghentikan genjotan penisnya, atau menjambak rambutku sampai kesakitan dan melupakan dorongan orgasmenya.
Aku benar-benar dibuat takluk oleh kedua penjaga sekolah itu. Kurasakan wajahku panas merasakan sensasi orgasmenya berulang kali berhasil digagalkan.
Entah berapa lama tubuhku berada di dalam himpitan dan genjotan kedua penjaga sekolah itu.Aku sendiri sampai terlalu payah untuk merintih, tubuhnya sekarang hanya tergetar dan menggeliat setiap kali hendak orgasme.
“Gimana rasanya dikeroyok kaya gini Non Erlina? Ngomong dong..” kata Pak Togar sambil terus menggenjot vaginaku.
“Eeeghh… ennaaakkk… Oohhhh… Nikmathh… Ahhhhh…..” jawabku sambil membiarkan kedua puting payudaraku dijilat dan digigit kecil oleh Pak Togar.
“Apa Non mau lain kali ngentot bareng kita lagi?” tanya Aryo dari belakang.
“Ehhkkhh…. iyaahhh… mauuhhh… oohhh…” aku menjawab asal saja.
Mendengar hal itu Aryo makin bersemangat menggenjotkan penisnya di anusku. Hal itu berlangsung sekitar 15 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Togar erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya.
Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan mereka. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga.
Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Togar, dan Aryo menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.
Tanpa disadari, ada seseorang di luar sana yang telah mengetahui perbuatan mesum kami di toilet ini. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan orang itu masuk
“Hei, apa-apaan kalian? Ini sekolah, bukan tempat untuk main gila!” bentaknya
Tentu saja kami pun terkejut dan melihat ke arah Ms. Alice, guru Bahasa Inggris yang berasal dari Amerika itu, berdiri berkacak pinggang dengan muka yang marah. Perlu diketahui bahwa sekolahku adalah sekolah internasional jadi tidak heran ada beberapa guru native yang mengajar di sini. Ms. Alice adalah seorang wanita berumur 24 tahun, berambut merah pendek dengan tubuh terbilang jangkung kalau dibandingkan tinggi badan wanita Asia pada umumnya.
Ia sudah dua tahun di Indonesia sehingga sudah cukup lancar berbahasa Indonesia. Aku yang masih kaget buru-buru metutupi dadaku yang telanjang dengan kedua lengan. Mata Ms. Alice terpaku melihat melihat batang kemaluan kedua pria itu yang setengah ereksi itu.
Melihat reaksi Ms. Alice yang terdiam dan matanya mengarah pada kemaluan pria itu, Pak Togar timbul nyalinya untuk maju mendekati Ms. Alice, matanya menatap mata hijau wanita bule itu dengan tajam. Aneh, Ms. Alice yang tadinya tampak galak tiba-tiba terdiam dan melangkah mundur setengah langkah. Tanpa aba-aba, Pak Togar menarik lengan Ms. Alice dan dengan cepat mendekap tubuhnya.
“No…tidak…mmmhhh!” sebelum Ms. Alice menyelesaikan kata-katanya bibirnya sudah lebih dulu dilumat dengan ganas oleh Pak Togar.
Ms. Alice berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh penjaga sekolah itu, tetapi tenaganya tentu kalah dibanding pria itu. Pak Togar menyibak rok Ms. Alice hingga terlihat pahanya yang jenjang dan putih mulus, tangan kasar itu langsung menggerayangi kemaluan Ms. Alice dari luar celana dalamnya.
Mereka bergumul beberapa saat hingga akhirnya dorongan tangan Ms. Alice mulai berubah menjadi pelukan dan elusan liar, ia mulai membalas cumbuan Pak Togar dan bermain lidah dengannya.bertarung dan tangan Ms. Alice meraih penis Pak Togar.
Ciuman mereka terpisah beberapa saat untuk mengambil nafas.
“Puasin saya Pak…yah setubuhi saya dengan your big cock!” pinta Ms. Alice dengan suara lirih, kelihatannya ia sudah terangsang berat.
Pak Togar menurunkan celana dalam Ms. Alice lalu melepas bajunya dengan kasar. Ms. Alice agak kaget tetapi diam saja. Batang kemaluannya yang dari tadi dielus-elusnya itu kini digesek-gesekkan oleh Pak Togar di selangkangannya. Ms. Alice menyandarkan punggungnya ke tembok dan mulai mengerang keenakan.
Aku pun kembali merasakan seseorang meremas-remas buah dadaku dari belakang, ternyata Aryo yang nafsunya bangkit lagi siap untuk memulai babak berikutnya. Aku pun melingkarkan tangan memeluk lehernya, kutengokkan wajah ke samping dan ia menyambut bibirku, kami kembali berciuman.
Penisnya yang sudah bangkit lagi bergesekan dengan belahan pantatku. Kulihat di sudut sana, Ms. Alice pun mulai mengerang dan mendesah, tangannya membuka kait branya sendiri lalu menurunkan cupnya sehingga payudaranya pun terkuak.
Pak Togar langsung memainkan buah dada wanita bule itu dan mereka pun berciuman dengan panas. Setelah beberapa saat saling merangsang, Pak Togar membawa Ms. Alice ke bangku panjang dan membaringkannya telentang di atasnya. Kemudian mulailah ia memasukkan batang kemaluannya yang sudah siap tempur itu ke dalam liang kemaluan Ms. Alice.
Sodokan-sodokan pertama dimulainya dengan pelan-cepat pelan-cepat dengan ritme yang secara random. Ms. Alice mendesah dan menggumam dalam bahasa Inggris menerima sodokan-sodokan penis pria itu.
Sementara tubuhku juga telah kembali bersatu dengan Aryo, sambil mendekapku dari belakang ia memasukkan penisnya ke vaginaku, tubuhku dibungkukan ke depan membentuk sudut 90 derajat dan ia memegangi kedua pergelangan tanganku. Ia pun memulai genjotannya terhadap vaginaku. Dalam posisi begini kedua payudaraku nampak jelas sekali berayun-ayun mengundang selera.
“Uuugghhh…asoy nih, memek bule, sedappphh!” ceracau Pak Togar sambil terus menggenjot vagina Ms. Alice dengan berpegangan pada kedua pergelangan kaki wanita itu.
Ms. Alice terlihat pasrah, tubuhnya yang sudah telanjang bulat tersentak sentak di atas kursi panjang itu. Aku melihat jelas vagina Ms. Alice yang bulunya juga kemerahan itu diterobos penis pak Togar yang besar dan berurat.
Desahan pelan yang seksi dari guru Bahasa Inggrisku itu membuatku panas dingin menyaksikannya. Ms. Alice sama sekali tak terlihat diperkosa, bahkan dengan penuh penyerahan ia menyambut setiap tusukan pak Togar dengan sedikit mengangkat pinggulnya, nampaknya ia sudah lama tidak menikmati kenikmatan seks sehingga sekarang demikian larut di dalamnya.
Sepuluh menitan kemudian mereka berganti posisi, kini Pak Togar telentang di bangku panjang dan sebelum ia sempat meminta, Ms. Alice sudah lebih dulu meraih penis besarnya dan menjilatinya dengan bernafsu.
Wajah Ms. Alice nampak liar ketika menjilati penis itu sambil mengocoknya persis seperti artis-artis porno di film-film produksi Vivid dan Private, berbeda sekali dengan kesehariannya ketika mengajar di kelas yang anggun dan keibuan.
Sedangkan aku kini sedang disetubuhi Aryo dengan punggung bersandar ke tembok dan kedua kakiku diangkat olehnya, ternyata kurus-kurus begini kuat juga dia menopang tubuhku. Penisnya menghujam-hujam vaginaku, terkadang bibir kami bertemu dan saling bermain lidah. Aku sudah benar-benar mandi keringat karena sudah bergulat sejak tadi, tapi herannya kedua orang ini sepertinya belum puas juga mengerjaiku apalagi sekarang ditambah Ms. Alice.
“Aahh..ahhh…kuat banget sih Bang, mau sampe kapan nih?” desahku di tengah pergumulan kami
“Hehehe…mumpung dapet rejeki Non, kapan lagi bisa gini, makannya kudu dipuas-puasin sekarang…huuhhh….uuhh!” jawabnya tanpa menghentikan genjotan
“Enngghh…Bang…” aku melenguh keenakan ketika tiba tiba penisnya menyodok dalam-dalam.
Cairan cintaku yang sudah kembali meleleh melumasi vaginaku membuat sodokan itu terasa begitu nikmat. Apalagi urat urat yang menggerinjal itu berdenyut denyut, membuat aku kehilangan kontrol dan mulai menggerakkan pinggulku menyambut tiap genjotannya.
“Enak kan Non?” tanya Aryo dengan senyum mengejek.
“Iyah Bang… enakkhh.. ooohh” jawabku yang sedang dimabuk birahi.
Dalam diriku sekarang ini hanyalah mengejar orgasmeku, tak kuperdulikan celotehan Aryo yang mengejekku dengan cara menirukan desahan, erangan dan lenguhanku. Aku menggerakkan mata ke arah bangku panjang, ternyata mereka sedang bergaya 69.
Pak Togar sedang asyik-asyiknya menjilat dan mencucuki vagina Ms. Alice yang di atas tubuhnya, ia membenamkan wajahnya pada vagina berbulu kemerahan itu seolah mau melahapnya. Ms. Alice dengan badan menggeliat-geliat menahan nikmat juga tidak kalah agresif mengoral penis penjaga sekolah itu sehingga pria itu melenguh nikmat dan berkelejotan.
Setelah itu Ms. Alice melanjutkannya dengan naik ke penis Pak Togar, setelah menempelkan kepala penis itu pada bibir vaginanya, Ms. Alice menurunkan tubuhnya dan blesss…penis Pak Togar pun terbenam dalam vaginanya.
Ia mulai menaik turunkan tubuhnya hingga vaginanya terpompa oleh penis itu. Pak Togar dibuatnya kelabakan dan mengerang ngerang dengan goyangan tubuhnya yang ganas. Aryo sudah hampir selesai denganku, ia sudah mau keluar. Sebelum ngecrot ia menurunkan tubuhku dan menyuruhku berlutut.
Di depan wajahku ia kocok penisnya dan crottt…croott…spermanya muncrat diiringi erangannya. Wajahku pun basah karena cipratan cairan putih kental itu. Aku membuka mulut menyambut cipratan sperma itu, setelah semprotannya melemah, kuraih benda itu dan langsung kumasukkan mulut dan kuemuti dengan nikmatnya penisnya yang mulai lembek bercampur sperma dan cairan kewanitaanku itu.
Aryo akhirnya terduduk lemas di lantai, aku yang belum mencapai orgasme menghampiri Pak Togar yang sedang sibuk dengan Ms. Alice di atas bangku. Kunaiki wajah Pak Togar dengan posisi berhadapan dengan Ms. Alice, sehingga lubang kemaluan dan pantatku tepat mengarah ke wajah pria itu. Tanpa kuminta aku sudah merasakan lidahnya menjilati liang kemaluanku yang basah itu dan memainkan klitorisku.
Pada waktu yang sama, aku mulai menciumi Ms. Alice dan memainkan buah dadanya, begitu pula dengan Ms. Alice yang membalas ciumanku dengan ganas dan juga meremas payudaraku. Ia menjilati cipratan sperma yang membasahi wajahku itu hingga bersih.
“You…naughty girl…sshh…I’ll punish you for this!” katanya sambil mendesah di dekat wajahku.
Aku hanya tersenyum nakal memandangnya lalu kupagut bibirnya dan kamipun berpelukan sesama wanita dan beradu lidah. Lima menit kemudian bibirku merayap turun ke lehernya terus dengan tujuan payudaranya. Putingnya yang coklat itu pun akhirnya kutangkap dengan mulutku dan kuemut-em
“Uuuhh…I’m coming…yeesss…aaahh…aahh!” Ms. Alice mendesah panjang beberapa saat kemudian diiringi dengan tubuhnya yang mengejang.
Ia semakin cepat menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak Togar hingga akhirnya kulihat tubuhnya semakin berkelejotan, ia mencengkram erat kedua lenganku menyongsong orgasme hingga melemas dalam dekapanku.
“Weleh…weleh hari ini hoki banget udah dapet cewek SMA dapet gurunya lagi…mana bule pula!” sahut Aryo berjalan menghampiri kami, “yuk sini Miss, gua pengen ngerasain memek bule nih!”
Ia menarik tubuh Ms. Alice yang masih lemas pasca orgasme. Karena masih belum pulih tenaganya Ms. Alice pun tersungkur di lantai. Melihat itu, Aryo duduk di lantai dan menaikkan tubuh guru bahasa Inggrisku itu ke pangkuannya dalam posisi berhadapan. Ia mengarahkan penisnya yang sudah keras lagi ke vagina Ms. Alice yang dengan pasrah mengikuti saja arahannya.
“Aaaahh!!” terdengar desahan lirih dari mulut wanita berambut merah itu saat ia menurunkan tubuhnya hingga vaginanya tertancap di penis Aryo
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Aryo mulai menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas membuat Ms. Alice mendesah nikmat sambil berpelukan pada tubuh kurusnya. Penjaga sekolah bertubuh kurus itu membenamkan wajahnya pada dada Ms. Alice dan dengan bernafsu ia melumat payudaranya yang berukuran lumayan besar itu secara bergantian.
“Non Lina, bapak tusuk lagi yah!” pinta Pak Togar di bawah selangkanganku, sepertinya ia sudah cukup puas melumat kewanitaanku, terlihat dari mulutnya yang sudah belepotan cairanku.
Aku mengangguk saja mengiyakannya, lalu ia menyuruhku berposisi doggie di lantai. Setelah bertumpu dengan kedua lutut dan telapak tanganku, aku merasakan kepala penisnya kembali melesak masuk ke vaginaku.
“Uuuhhh!” desahku lirih dengan wajah terangkat.
Ia memompa tubuhku dengan penuh nafsu. Tangannya meraba dan meremas-remas payudaraku yang bergelayutan. Sambil terus memompa, tangan satunya meraih payudara Ms. Alice yang sedang bersetubuh dengan Aryo di sebelahnya.
Tangannya yang menggerayangi payudaraku makin ganas sambil sesekali memilin-milin puting susuku. Tubuhku tersentak-sentak karena pompaan Pak Togar, kutengokkan kepalaku ke samping belakang melihat Ms. Alice sedang menaik turunkan tubuhnya di atas penis Aryo sementara payudaranya dikenyot pria kurus itu dan payudara satunya diremas-remas Pak Togar. Ms. Alice sepertinya sudah pulih tenaga dan birahinya, terlihat dari goyangnya yang liar itu.
“Ooohhh…uuhh…Lina…Lina!!” ia memanggilku di tengah desahannya
“Yes Miss?” jawabku
“Please…aahhh…remember…remember to keep this little secret, ok…hhhmmhh!” katanya dengan lirih.
“Sure…ahhhh…I do!” jawabku menyanggupi
Kami terus berpesta seks di toilet selama hingga setengah jam ke depan, aku terpaksa minta berhenti karena sudah mencapai batas staminaku sedangkan mereka masih tampak bersemangat. Untungnya ada Ms. Alice sehingga mereka mengijinkanku pulang lebih dulu.
Setelah aku berpakaian Aryo sedang menyetubuhi Ms. Alice dalam gaya doggie sementara Pak Togar di depannya menyetubuhi mulut guruku itu. Aku berpamitan pada mereka dan keluar menutup pintu membiarkan mereka yang di dalam meneruskan kegiatan mereka berasyik masyuk.
Sungguh tubuhku terasa lemas sekali, berjalan pun terasa nyeri pada vagina dan pantatku, terutama anusku yang kurasakan sakit dan sekarang terasa terbuka longgar. Demikian sekilas petualangaku dengan kedua penjaga sekolahku yang kelak terulang lagi dan lagi pada hari-hari berikutnya. Aku semakin tak dapat melepaskan diri dari kenikmatan yang mereka berikan dan menjadi budak seks mereka sampai aku lulus SMA.
Aku senang karena mereka mewarnai kehidupan seks masa SMA-ku dengan variasi seks yang belum berbeda dari yang lain. Sejak saat itu jika ada kesempatan aku selalu bercinta dengan mereka. Tak jarang aku mengundang mereka ke rumahku jika keadaan sepi. Di rumah kami menikmati kepuasan mulai dari kamar tidurku, ruang tamu sampai kamar mandi. Bahkan beberapa kali aku mengajak mereka untuk pesta seks dengan teman-teman SMAku yang cantik-cantik, ya…sahabat-sahabat dekatku yang kebetulan sama-sama petualang seks.
Ms. Alice, guru Bahasa Inggrisku itu, bukanlah satu-satunya orang lain yang terlibat dalam kehidupan seksku yang liar, guru les pianoku yang gadis alim itu pun juga tak terkecuali, lalu ada juga adik sepupuku dan seorang guru muda cantik di sekolahku yang ikut terseret dalam kehidupan gilaku ini. Pak Togar sesekali mengajak kenalannya yang lain untuk ikut menikmati tubuhku dan juga teman-temanku. Biasanya yang diajak adalah lelaki yang paruh baya namun staminanya bagus. Aku hanya berpesan agar mereka tidak ember membocorkan semua ini, I love my sex life!

- Copyright © FOTO MANTAN BUGIL - Author by PK - Designed by Pecinta Kelamin -